Bersabar seperti petani – LA

Yakobus 5:7-11 [Bersabar dalam penderitaan]

Perikop pagi ini mengutarakan kepada saya bagaimana saya harus bersabar dalam penderitaan karena kedatangan Tuhan telah dekat. Yakobus mengambil suatu perumpamaan kesabaran yaitu “seperti petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi” (ay 7).

Timbul pertanyaan dalam hati saya: “Bagaimana sih bersabar yang diinginkan Tuhan?” Terkadang di dalam pemikiran saya, kesabaran tidak selalu membawa hasil yang memuaskan. Kesabaran harus disertai dengan kebijaksanaan.

Sabar seperti petani.

Saya mulai mengingat kisah saya sewaktu di ladang pelayanan yang mayoritas penduduknya adalah petani. Petani hanya mengharapkan hujan lebat dua kali dalam periode menanam. Satu kali sewaktu bibit baru ditabur, dan satu kali saat sebelum masa menuai. Mereka tidak menginginkan hujan turun saat padi muda mulai tumbuh, krn itu dapat menghancurkan akar padi yang belum terlalu kuat di dalam tanah. Petani sabar menunggu musim menuai.

Tetapi saat mereka mulai menanti waktu menuai, hal ini bukan berarti mereka hanya duduk menganggur di rumah. Pekerjaan belum selesai hanya dengan menabur benih, lalu bersantai menunggu waktu menuai. Selama selang waktu antara periode menabur dan menuai, para petani tetap datang ke ladang mereka setiap hari, untuk memberi pupuk, menyemprot hama, mengusir burung2, mencabuti lalang yang tumbuh di sekitar benih, dlsb. Untuk apa semua itu mereka lakukan? Untuk menjaga agar nanti panen mereka sukses. Segala hal dilakukan untuk mempersiapkan masa penuaian. Semua focus dicurahkan kepada persiapan masa menuai. Setelah benih ditabur, mereka melakukan semua persiapan masa penuaian (walaupun masa menuai itu terjadi berbulan-bulan kemudian).

Saya harus hidup dengan kesabaran seperti petani yang menantikan musim panen. Sabar melakukan segala upaya untuk ‘masa penuaian’. Sabar bukan berarti duduk berpangku tangan. Sabar berarti tetap melakukan pekerjaan dan tetap focus pada masa penuaian.

Saya harus terus memupuk benih kebenaran, mengusir burung pemakan benih, menyemprot hama perusak tanaman, yang dapat menghabisi benih kebenaran yang tumbuh dalam hati saya dan juga yang saya pernah taburkan dalam hati orang lain. Semua ini untuk masa penuaian, kedatangan Tuhan yang sudah tidak lama lagi.

Leave a comment

Filed under Meditasi Alkitab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s