Untung Menjadi Rugi, Kok Bisa?

Amsal 1:8-19

(8) Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu

(9) sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu.

(10) Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut;

(11) jikalau mereka berkata: “Marilah ikut kami, biarlah kita menghadang darah, biarlah kita mengintai orang yang tidak bersalah, dengan tidak semena-mena;

(12) biarlah kita menelan mereka hidup-hidup seperti dunia orang mati, bulat-bulat, seperti mereka yang turun ke liang kubur;

(13) kita akan mendapat pelbagai benda yang berharga, kita akan memenuhi rumah kita dengan barang rampasan;

(14) buanglah undimu ke tengah-tengah kami, satu pundi-pundi bagi kita sekalian.”

(15) Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka,

(16) karena kaki mereka lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah.

(17) Sebab percumalah jaring dibentangkan di depan mata segala yang bersayap,

(18) padahal mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri.

(19) Demikianlah pengalaman setiap orang yang loba akan keuntungan gelap, yang mengambil nyawa orang yang mempunyainya.

Bahan Renungan

Sebagai manusia yang sudah berdosa, kadangkala pemikiran saya dipancing untuk merencanakan hal-hal yang akan merugikan orang lain terlebih apabila orang tersebut tidak saya sukai, maka rancangan-rancangan jahat mulai berputar di kepala untuk menjatuhkan atau mendatangkan kerugian bagi orang yang dimaksud.

Tetapi apakah benar bahwa rancangan yang saya siapkan itu tidak akan memberikan dampak kepada saya karena yang menjadi obyek penderitanya adalah orang lain dan apa yang menjadi hak orang lain saya kebiri demi keuntungan saya sendiri?

Firman Tuhan di dalam perikop ini (khususnya untuk orang muda) mengingatkan saya bahwa apabila saya menjadi tamak, cinta diri atau mendahulukan kepentingan diri sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain, maka saya sedang mempersiapkan nyawa saya diambil dari tubuh fisik saya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa timbul kompetisi di lingkungan pekerjaan, di gereja maupun dalam rumah tangga sehinga mulai mengesampingkan nilai-nilai kebenaran yang sudah diajarkan dari kecil dan mulai menghalalkan segala cara, oleh karena ingin memenangkan kompetisi untuk menjadi yang ter….. (berdasarkan takaran dunia).

Lalu apa yang harus saya perbuat supaya saya tidak terjebak dalam mencari keuntungan dunia yang bersifat sesaat dan tidak berperikemanusiaan ini?

1. Perhatikanlah nasihat orang tuamu (ayah dan ibu, bukan salah satunya) supaya menambah budi baikmu seperti hiasan kepala dan memperindah rupamu seperti kalung yang indah (Amsal 1:8 & 9).

2. Jangan menuruti bujukan orang berdosa untuk melakukan kejahatan dan jauhilah mereka (Amsal 1:10-15).

Semoga Tuhan selalu menuntun saya dan saudara/i untuk tidak terjebak di dalam ketamakan atas keuntungan dunia.

Wassalam,

Frank

Leave a comment

Filed under Meditasi Alkitab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s