Menjadi Anak yang Bijaksana

Amsal 10:1 Menjadi Anak yang Bijaksana

(1) Inilah petuah-petuah Salomo: Anak yang bijaksana adalah kebanggaan ayahnya; anak yang bodoh menyusahkan hati ibunya.

Bahan Renungan

Ciri anak yang bijaksana:

1. Tulus (I Tawarikh 29:19)

Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan, atau memutarbalikkan fakta. Ya jika ya, dan tidak jika tidak.

2. Rendah hati (Amsal 3:34)

Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati, seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang berada di atasnya merasa nyaman dan membuat orang yang berada di bawahnya merasa dihargai.

3. Setia (Amsal 19:22)

Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan, selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Berpikir positif (2 Samuel 14:17)

Orang yang selalu berusaha melihat sesuatu dari pandangan yang positif kendati dalam kondisi terburuk sekalipun. Lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam.

5. Ceria (Amsal 15:13)

Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha bergembira. Memiliki potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Bertanggung jawab (Yehezkiel 45:17)

Orang yang melaksanakan kewajibannya dengan sunggu-sungguh. Jika melakukan kesalahan, berani mengakuinya. Ketika gagal, kecewa dan sakit hati, tidak mencari orang lain untuk dipersalahkan. Merasa bahwa dirinya sendiri yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Percaya diri (Ibrani 13:6)

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Oran yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Berjiwa besar (Amsal 19:11)

Mampu memaafkan orang lain, tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Tetap tegar di masa-masa sulit dan tidak hanyut di dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Bebas dari rasa tegang (Amsal 29:1)

Hidup lebih ringan, tidak suka membesar-besarkan masalah kecil, tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan, tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empati (Ayub 30:25)

Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tetapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar yang terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Lalu bagaimana ciri anak yang bodoh? Tentu saja kebalikan dari anak yang bijaksana.

Tuhan, perlengkapilah saya dengan kebijaksanaan supaya kehadiran saya boleh mendatangkan kesukaan bukan kesusahan.

Salam,

Frank

Leave a comment

Filed under Meditasi Alkitab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s